Rabu, 24 November 2010

Indigenous & Cultural Psychology (Indonesia, Kim, Hwang & Yang)


Tebal: xxxi+810 hal
Harga Toko: Rp.130.000,00
Harga khoesoes oentoek Toean/ Njonja: potong 30% jadi Rp. 91 riboe
Order: 087838185995
Email : Hakimpsi@yahoo.com
Pengantar

Perkembangan indigenous psychology[1] sebagai sebuah bidang mempunyai sejarah yang singkat. Kemunculannya distimulasi oleh para psikolog terkemuka di berbagai belahan dunia Virgilio Enriques adalah seorang pemimpin karismatik, yang mendukung Sikolohiyang Pilipino (Filipino psychology), yang kemudian menjadi sebuah gerakan nasional di Filipina (Enriquez, 1992; Pe-pua, Bab 5, buku ini). Durgan dan Sinha mengkritik “penjiplakan” psikologi Barat dan secara vokal menganjurkan indigenisasi psikologi. Ada banyak pakar lain yang menekankan pentingnya indigenous knowledge: Yoshi Kashima di Australia; Bame Nsamenang di Kamerun; John Berry dan John Adair di Kanada; Reuben Ardila di Kolumbia; Denise Jodelet di Perancis; James Georgas di Yunani; Michael Bond, Fanny Cheung, David Ho, Henry Kao, Kwok Leung, dan Chung-Fang Yang di Hong Kong; R. K. Naidu, J. B. P. Sinha, R. C. Tripathi, Ramesh Mishra, dan Girishwar Misra di India; Hiroshi Azuma, Akira Hoshino, dan Susumu Yamaguchi di Japan; Sang-Chin Choi, Uichol Kim, dan Young-Shin Park di Korea; Rogelio Diaz-Guerrero dan Rolando Diaz-Loving di Mexico; Michael Durojaiye di Nigeria; Alfred Lagmay dan Rogelia Pe-pua di Filipina; Leo Marai of Papua Nugini; Pawel Boski di Polandia; Boris Lomov di Rusia; Carl Martin Allwood di Swedia; Pierre Dasen di Swiss; Kuo-Shu Yang dan Kwang-Kuo Hwang di Taiwan; Cigdem Kâğitçibaşi di Turki; Padmal de Silva dan Rom Harre di the Inggris; Fathali Moghaddam, Carolyn Pope, dan Joseph Trimble di the Amerika Serikat; dan Jose Miguel Salazar di Venezuela. Mereka mewakili suara-suara individu, dengan perspektif dan penekanan yang berbeda.
            Pada tahun 1993, Kim dan Berry mengedit buku yang berjudul Indigenous Psychologies: Research and Experience in Cultural Context, yang mengartikulasikan latar belakang, kebutuhan, dan arah perkembangan indigenous psychologies. Kom dan Berry (1993) merviu landasan ilmiah dan latar belakang indigenous psychology dan membedakannya dengan bidang-bidang yang terkait: antropologi budaya (Heelas & Locke, 1991), etnosains (Holland & Quinn, 1987), dan psikologi lintas-budaya (Berry, Poortinga, Segall, & Dasen, 2002). Sejak publikasi Kim dan Berry (1993) itu, berbagai kemajuan ilmiah di bidang indigenous psychology banyak yang terjadi di luar konteks Barat (artinya Amerika Utara dan Eropa); akibatnya, banyak yang tidak menyadari kontribusi ilmiah yang telah dicapai selama dekade silam. Buku ini menyatukan para pakar dari seluruh dunia untuk mendokumentasikan kemajuan-kemajuan tersebut.
            Sebelum publikasi buku Kim dan Berry (1993), indigenous psychology adalah bidang yang relatif belum banyak dikenal yang secara kolektif diberi label indigenous psichologies. Sejak 1993, indigenous psychology sebagai sebuah bidang mula menerima lebih banyak perhatian. Pada tahun 1999 John. G. Adaor dan Rolando Diaz Loving mempublikasikan sebuah edisi khusus yang berjudul, “Indigenous Psychologies: The Meaning of Concepts and Its Assessment,” di dalam Applied Psychology: An International Review. Pada tahun 2000, Chung-Fang Yang dan Kwang-Kuo Hwang mengedits ebuah edisi khusus Asian Journal of Social Psychology, yang membandingkan pendekatan indigenous, kultural, dan lintas-budaya. Baru-baru ini, Asian Journal of Social Psychology menerbitkan sebuah edisi khusus yang berjudul “Responses to Epistemological Challenges to Indigenous Psychologies” yang diedit oleh Manfusa Sham dan Kwang-Kuo Hwang (2005). Carl Martin Allwood dan John W. Berry mengedit sebuah edisi khusus yang berjudul “Origins and development of Indigenous Psychologies: An International Analysis”, yang akan muncul di dalam International Journal of Psychology (2006).
            Indigenous psychology juga ditengarai sebagai sebuah bidang yang baru muncul di bidang psikologi terapan, sosial, kultual, dan lintas-budaya. Di dalam beberapa handbooks mutakhir, sebuah bab di dipersembagkan bagi indigenous psychology, yaitu di dalam Handbook of Cultural Psychology (Kim, 2001) dan Handbook of Cross-Cultural Psychology (Sinfa, 1997). Di dalam Encyclopedia of Applied Psychology, perkembangan indigenous psychology telah direviu (Kim & Park, 2004). Di berbagai textbooks, seperti Cross-Cultural Psychology: Research and Applications (Berry et al., 2002) dan Social Psychology across Culture (Smith & Bond, 1999), berbegai perkembangan di bidang indigenous psychology telah direviu.
            Bahkan untuk publikasi buku Kim dan Berry (1993), masih ada miskonsepsi, interpretasi keliru, dan kritik tanpa dasar (misalnya, Adamopoulos & Lonner, 2001; Herman & Kempen, 1998; Poortinga, 1999; Triandis, 2000). Kesimpulan-kesimpulan yang keliru tersebut ditraik karena para penulisnya tidak menyadari kemajuan-kemajuan ilmiah yang telah dicapai di luar konteks Barat. Berlawanan dengan berbagai miskonsepsi inim indigenous psychology adalah bagian dari tradisi ilmiah yang menganjurkan multiple perspectives, tetapi bukan multiple psychologies. Oleh sebab itu buku ini menggunakan bentuk tunggal, indigenous psychology, bukan bentuk jamak. Kedua, indigenous psychology mengakui pentingnya menelaah budaya yang memberikan isi dan konteks penelitian psikologi penting.
            Untuk menyatukan berbagai sudut pandang, pendekatan, dan perspektif yang berbeda di dalam indigenous psychology di seluruh dunia, sebuah lokakarya internasional yang berjudul Scientific Advances in Indigenous Psychologies: Philosophical, Cultural, and Empirical Contributions diselenggarakan di Taipei, Taiwan, 29 Oktober-1 November 2001. Maksud lokakarya tiga-hari ini adalah untuk menyatukan para pakar terkemuka untuk mendokumentasikan berbagai kemajuan ilmiah di bidang indigenous psychology dan mendiskusikan kemungkinan integrasi untuk bidang ini. Lokakarya ini memberikan kesempatan bagi para pesertanya untuk menyajikan pandangan dan temuan mereka dan untuk mendiskusikan dasar untuk integrasi dan kolaborasi.
            Kalau kami harus mengidentifikasi salah satu kelemahan di dalam buku ini, itu adalah kurangnya representasi psikolog-psikolog yang mewakili indigenous people. Buku ini difokuskan pada negara-negara moderen, dan kami tidak dapat sepenuhnya merepresentasikan hasil karya ilmiah indigenous people. Kami berharap bahwa sebuah buku yang difokuskan pada indigineous psychology of indigineous people akan diterbitkan dalam waktu dekat.
            Untuk publikasi buku ini, kami ingin menyampaikan rasa terima kasih tulus kami kepada the Central Office of the Academia Sinica, Taipei, Taiwan untuk dukungan finansial yang diberikannya, yang memungkinkan terselenggaranya lokakarya tersebut. Academia Sinica menyediakan pendanaan penuh yang mencakup ongkos pesawat, akomodasi, makanan, dan tur di Taipei. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada the Research Insitute of Ethnology, Academia Sinica, dan Direktu Dr. Ying-Kuei Huang untuk memberikan kesempatan kepada kami untuk menggunakan ruang pertemuan dan berbagai fasilitas. Secara khusus, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada staf dan personil di the Institute of Ethnology yang memastikan bahwa lokakarya telah terselenggara secara efisien dan sukses. Kami juga berterima kasih kepada the Office of Research in Chinese Indigenous Psychology, National Taiwan University, dalam membantu mengorganisasikan lokakarya ini.
            Berdasarkan lokakarya tersebut, buku ini disiapkan. Kami sangat berterima kasih kepada Dr. Olwen Bedford untuk proofreading seluruh bab di dalam buku ini. Tugas mengedit seluruh manuskrip terlaksana atas dukungan dana hibah dari National Science Council, Republic of Cina, NSC 93-2752-H-002-001-PAE. Kami ingin menucapkan terima kasih kepada the Specialization Project, Department of Psychology, Chung-Ang University, untuk pemberian dukungan administratif maupun finansialnya. Kami juga berterima kasih kepada Anthony J. Marsella untuk memasukkan buku ini di dalam International and Cultural Psychology Book Series. Terakhir, kami berterima kasih puula kepada Sharon Panulla, Anna Tobias, dan Herman Makler di Springer yang membantu memfinalisasikan publikasi buku ini.

Uichol Kim
Kup-Shu Yang
Kwang-Kuo Hwang


[1] Kata sifat indigenous mempunyai makna yang sama dengan “from/of the  original origin”.  Oleh sebab itu, dalam pengertian kata sifat murni, semua orang, kelompok etnik, atau masyarakat dapat dideskripsikan indigenous  dalam merujuk suatu wilayah atau lokasi tertentu. (en.wikipedia.org)


Order: 087838185995
Email : Hakimpsi@yahoo.com

1 komentar:

roy marten mengatakan...

mau pesan, gimana caranya ?

Poskan Komentar

 

© Newspaper Template Copyright by Toko Buku Psikologi | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks